Writy.
  • Artikel
  • Berita
  • Aksi
  • Bunga Rampai
  • Pondok Damai
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Writy.
  • Artikel
  • Berita
  • Aksi
  • Bunga Rampai
  • Pondok Damai
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Writy.
Oral-Needed for Dialogue

Peserta Pondok Damai melakukan refleksi

Oral-Needed for Dialogue

Syafira Anisa, S.Ag. Oleh Syafira Anisa, S.Ag.
10 Januari 2022
di Artikel
0
Share on FacebookShare on Twitter

No peace among the nations without peace among the religions, No peace among the religions without dialogue among the religions, No dialogue among the religions without the inveestigation of the foundations of the religions – Hans Kung.

Setiap individu dari masing-masing agama tentu menginginkan sebuah keharmonisan, kedamaian, kerukunan, saling menghormati, serta menjunjung tinggi prinsip kebersamaan. Namun dewasa ini, realitanya berbanding terbalik dengan apa yang diharapkan oleh penganut masing-masing agama. Banyak isu muncul di tengah ketidakharmonisan agama-agama, salah satu alasan muncul ketidakharmonisan tersebut karena adanya sikap superior dengan merendahkan kepercayaan yang dimiliki orang lain, meneguhkan ajaran nenek moyang dianggap paling benar serta asumsi-asumsi lainnya yang semakin merenggangkan hubungan antar agama.

Kita semua mengetahui dan tidak menyangkal bahwa Indonesia merupakan negara yang tersusun dari beberapa pulau dan agama seperti Islam, Kristiani, Yahudi, Buddha, Konfusian maupun Hindu bahkan banyak agama masih belum diakui keberadaannya oleh negara. Tak heran jika isu tentang agama rentan menyulut pertikaian yang berujung konflik bahkan petumpahan darah. Oleh karena itu, perlu ditumbuhkannya sikap saling menghormati kehidupan bersama agama lain. Pada dasarnya, kerukunan merupakan tolak ukur paling normal untuk menyatakan tidak adanya konflik antar agama. Selain itu, juga menjadi indikator jika umat beragama di dalamnya hidup saling berdampingan dan damai. Indonesia dilambangkan sebagai simbol kerukunan ideal umat beragama karena memiliki pengalaman dalam budi daya toleransi di dalamnya. Simbol tersebut terintegrasi dalam berbagai macam bentuk seperti bendera, tradisi, upacara lokal, praktik keagamaan dan masih banyak lagi. Indonesia dengan masyarakat multikulturalnya dikagumi dan telah mendapat pengakuan di mata dunia. Hal tersebut dapat dilihat dari kemampuan peradaban dunia yang tumbuh subur di Indonesia, tanpa meniadakan eksistensi satu sama lain.

Baca Juga

Siapa, Butuh Ucapan Selamat Hari Raya?

Cyber Counseling Versus Cyber Bullying

Toleransi dinilai sebagai salah satu instrumen paling tepat untuk mewujudkan kerukunan. Secara normatif, toleransi merupakan pengalaman kebersamaan dengan agama lain yang dalam praktiknya saling menghormati agar mendapatkan titik temu satu sama lain. Dalam prosesnya, toleransi mengembangkan suatu konsep untuk saling terikat atau saling terlibat (engagement). Izak Lattu menawarkan pola baru dalam konsep keterlibatan dengan berorientasi pada lisan sebagai pemerkaya pendekatan dalam toleransi. Menurutnya, toleransi dapat dilihat dari dialog yang diciptakan di tengah umat beragama. (Lattu, 2019) Seperti kutipan Hans Kung diatas, bahwa ia ingin mengupayakan sebuah perdamaian dunia, dunia tanpa kekerasan serta terciptanya kerukunan dan kedamaian. Menurutnya, agama mampu memberikan kontribusinya untuk perdamaian dunia dengan cara mendialogkannya. Sebagai kompas kehidupan, agama menyebarkan sesuatu yang positif, serta sumber ide, revolusi atau pembebasan. Ketika hal tersebut telah dilakukan, maka probabilitas untuk terjadi konflik antar agama lebih sedikit dan angka kejadiannya akan mengalami penurunan.

Konsep keterlibatan sendiri mengacu pada sesuatu untuk menarik perhatian seseorang yang selanjutnya melibatkan diri pada sebuah percakapan dan diskusi, sehingga dapat dikatakan konsep keterlibatan dan dialog ini saling berkait kelindan. Dari kelekatan hubungan tersebut dapat tercipta interaksi sosial yang intens. Melanjutkan penawaran dari Lattu, dialog yang berorientasi pada lisan menciptakan keterbukaan untuk belajar dari ajaran agama lain dan menciptakan jalan untuk saling mengerti dan terikat dengan tradisi yang berbeda. Para ahli pun sepakat bahwa dialog antar agama tidak hanya berfokus pada kesamaan tapi juga belajar dari perbedaan. Swidler menegaskan bahwa dengan adanya peran perasaan dan lisan, manusia mampu mewujudkan dialog daripada percakapan berbasis diskusi seputar kanonik dan ajaran keagamaan yang lainnya. (Swidler, 2014)

Menanggapi tentang bagaimana konsep ini digaungkan, Charles Powel seorang Profesor dari Christian-Muslim Dialogue Holy Cross College memberikan beberapa faktor pendukung untuk menjalin keterikatan ‘engage’ terhadap agama lain. Pertama, apa yang menjadi pembahasan selama ini pada hakikatnya adalah bukan perkara masing-masing individu, namun pembahasan tersebut bersifat menyeluruh yang mencakup semua manusia. Kedua, pemahaman cara merangkul satu sama lain tidak datang secara alami, namun perlu adanya disiplin ilmu mengenai hal tersebut. Ketiga, mengedepankan orang lain agar pengalaman dan cerita mereka didengar. Dengan ini proses keterlibatan ‘engage’ dengan orang lain dapat terjalin melalui alur percakapan, dan tidak mengambil asumsi secara langsung. Keempat, berhenti menggunakan orang lain sebagai ‘alat’ bagi kepentingan atau bahkan untuk pencapaian target pribadi, hal ini hanya akan merenggangkan hubungan antar keduanya. Kelima, membuka diri kepada orang lain dengan menanyakan apa yang bisa dilakukan untuknya. Dengan melakukan kelima hal di atas, maka proses keterlibatan ‘engage’ dalam sebuah dialog dapat dilakukan, sehingga dapat dikatakan bahwa proses tersebut membuahkan hasil pemahaman akan orang lain secara mendalam. (Hsu, 2020)

Dari pemaparan di atas, toleransi, dialog, serta kontribusi lisan dalam berkomunikasi baik secara personal maupun interpersonal adalah serangkaian unsur yang dapat menciptakan interaksi sosial. Tentu saja berbicara seputar persoalan di atas, secara tidak langsung kita juga menyelami ranah psikologi sosial, karena pada dasarnya dari disiplin ilmu psikologi sosial sendiri dapat mengkonstruk jalannya konsep keterlibatan (engagement). Dalam terma komunikasi interpersonal, Braithwaite dan Schrodt  membaginya menjadi tiga pendekatan. Komunikasi interpersonal sebagai: a) berpusat pada individu, b) berpusat pada wacana atau interaksi, dan c) berpusat pada hubungan dalam komunikasi interpersonal. (Braithwaitte, 2015)

Pertama, komunikasi interpersonal yang berpusat pada individu. Perspektif ini berpusat pada sebuah pemahaman tentang bagaimana seorang individu merencanakan, memproduksi dan memproses teori pesan komunikasi interpersonal dan menggambarkan komunikasi sebagai aktivitas kognitif yang berpusat pada individu. Selanjutnya, fokus perspektif ini ada pada representasi mental yang mempengaruhi bagaimana orang menafsirkan informasi dan bagaimana mereka berperilaku. Kedua, pendekatan yang berfokus pada sebuah wacana dan interaksi. Fokus utamanya adalah memahami komunikasi antarpribadi sebagai pesan atau tindakan bersama yang dilakukan di antara perilaku orang-orang. Bergerak dari keadaan kognitif seseorang menuju berbagai teori yang berbagi fokus ke dalam sebuah konten, bentuk dan fungsi pesan serta interaksi perilaku antara pihak-pihak yang berinteraksi. Hal yang membuat para sarjana tertarik adalah sebuah wacana tentang cara pemahaman, makna, norma, peran serta aturan yang dikerjakan secara interaktif dalam komunikasi. Ketiga, fokus pendekatan terakhir ini tertuju pada pemahaman atas sebuah peran tentang cara mengembangkan, mempertahankan, dan mengakhiri sebuah hubungan baik sosial maupun pribadi, termasuk persahabatan, romantis dan lain sebagainya. Berangkat dari ketertarikan para sarjana pada hubungan pribadi lintas psikologi, komunikasi, sosiologi dan studi keluarga yang mulai untuk bertemu dan mempresentasikan penelitian mereka satu sama lain dan menghasilkan sebuah jurnal interdisipliner. Karena banyak dari para sarjana mengambil perspektif relasional, maka sesuatu yang dihasilkan adalah hubungan dekat yang mempengaruhi atau membentuk sebuah komunikasi interpersonal. Masing-masing dari tiga pendekatan di atas memberikan cara untuk memahami dan mempelajari pola komunikasi interpersonal serta mengetahui fungsi dalam kehidupan manusia. Sehingga dapat disimpulkan bahwa komunikasi interpersonal adalah sebuah proses yang melibatkan sejumlah orang dimana negosiasi makna terjadi dan diberlakukan melalui pesan verbal dan nonverbal.

Berangkat dari pemaparan di atas, saya tertarik untuk mendalami pembahasan mengenai ‘dialog’ karena cara salah satu dosen saya mengemas segala persoalan mengenai ‘interreligious dialogue’ dengan sangat menarik dan unik.  Namun sekali lagi hal itu hanya berkutat seputar teori dan materi. Pandangan saya terhadap seseorang yang ‘berbeda’ terbilang masih rabun, tentang bagaimana cara mereka berinteraksi dengan saya, apakah nantinya mereka menganggap saya aneh, dan banyak prasangka lainnya yang bermunculan satu persatu. Karena sejak kecil, nasihat untuk selalu ‘berteman hanya dengan sesama muslim’ acapkali diucapkan oleh kerabat dan guru serta banyak ajaran pada masa kecil dahulu yang dewasa ini mungkin saya bisa menilainya sebagai ajaran yang cenderung eksklusif.

Tentu saja, berawal dari ajaran eksklusif itu menumbuhkan labeling dan justifikasi tak berdasar kepada mereka yang ‘berbeda’. Secara pribadi, saya ingin membuktikan segala prasangka tersebut dan membiarkan ‘realitas yang berbicara’. Oleh sebab itu, saya memberanikan diri untuk mengikuti program “Pondok Damai” yang digelar Pelita Semarang. Meski terbayang-bayang akan prasangka dan ketakutan, tetapi saya yakin bahwa stigma yang tertanam sejak kecil itu tidak dapat dibenarkan sepenuhnya. Dan betul, teman-teman partisipan program Pelita; dari berbagai latar belakang, asal, dan agama yang berbeda berhasil menangkis segala prasangka dalam pikiran saya. Bahkan mereka tidak disibukkan untuk mencari perbedaan di antara kita dan saling mencari persamaan. Senada dengan apa yang dikatakan oleh ketua yayasan Vihara Buddhagaya Watugong bahwa perbedaan pun bahkan dapat ditemukan pada diri kita, ketika seseorang hanya berfokus pada perbedaan keyakinan maka ia tidak akan berkembang. Beliau berpesan untuk tidak menjadikan perbedaan sebagai penyekat untuk berkomunikasi. Karena pada dasarnya semua agama mengajarkan hal-hal baik dan tidak ada yang buruk.

Kegiatan di Pelita banyak melibatkan oral untuk berkomunikasi, baik dalam menceritakan pengalaman baik dan buruk dengan agama lain, atau sekedar mengobrol dan bersenda gurau dalam 3×24 jam. Dari situlah, kami para peserta Pondok Damai mulai mengenal satu sama lain secara intens. Mengenal lebih jauh tentang pribadi masing-masing bahkan ajaran dan bagaimana melaksanakan ibadah sehari-hari. Menariknya, ketika ada momen untuk berdoa bersama, mendengar khidmat lantunan doa dari teman-teman sungguh sangat tulus hingga tak tersadar air mata terus mengalir menghayati setiap kata dalam doa tersebut. Program Pelita (Persaudaraan Lintas Agama) sungguh menjadi wadah untuk mempertemukan kami, generasi muda yang sama-sama memperjuangkan kerukunan, toleransi dan kebangsaan. Mempelajari agama lain tidak lantas kita berpindah keyakinan, justru dengan memahami agama lain kita semakin yakin dengan agama yang kita anut. Adanya golongan garis keras pada agama tertentu disinyalir kurangnya pemahaman, dialog, dan komunikasi satu sama lain. Maka dari itu, konsep engagement atau keterlibatan sangat dibutuhkan dewasa ini agar proses dialog berjalan lancar.

Abu Nadrah meriwayatkan dari seseorang yang mendengar khutbah Nabi Saw pada hari Tasyriq, di mana Nabi saw bersabda, ‘Wahai manusia, ingatlah sesungguhnya Tuhan kamu satu dan bapak kamu satu. Ingatlah tidak ada keutamaan orang Arab atas orang bukan Arab, tidak ada keutamaan orang bukan Arab atas orang Arab, orang hitam atas orang berwarna, orang berwarna atas orang hitam, kecuali karena taqwanya apakah aku telah menyampaikan? Mereka menjawab: “Rasulullah SAW telah menyampaikan. (Riwayat Ahmad)

Semua orang yang beriman sungguh kepada Yesus Kristus harus mengasihi sesama saudara seiman (1Tes 4:9-10), dengan kasih sungguh-sungguh, penuh kemurahan, dan kelembutan. Kita harus ikut memperhatikan kesejahteraan, kebutuhan, dan keadaan rohani semua saudara seiman serta ikut merasa simpati dan menolong mereka di dalam kesusahan dan persoalan. Kita harus saling menghormati, menghargai sungguh-sungguh hal-hal yang baik dari sesama orang percaya (Roma 121:10)

 

Lattu, Izak YM. 2019. “Beyond Interreligious Dialogue: Oral-Based Interreligious Engagements in Indonesia” dalam Geussepe Giordan and Andrew P. Lynch, Annual Review of Sociology of Religion Vol. 10: Interreligious Dialogue: From Religion to Geopolitics. Brill. 70-72.

Swidler, Leonard. 2014. “Sorting Out Meanings: ‘Religion,’ ‘Spirituality,’ ‘Interreligious,’ Interfaith,’ ETC, Journal of Ecumenical Studies. 49 (3). 377.

Hsu, Alex. “Dialogue: The Shape of Religious Engagement” YouTube, diunggah oleh Ansari Institute, 28 Mei 2020, https://www.youtube.com/watch?v=2R6KZ2rnVY0&t=381s, diakses pada tanggal 06 Januari 2022.

Braithwaite, Dawn O. Paul Schrodt, dkk. 2015.  “Introduction Meta-Theory and Theory in Interpersonal Communication Research”. dalam Dawn. O Braithwaite, Paul Schrodt, Engaging Theories in Interpersonal Communication: Multiple Perspectives. New York: SAGE. 21-23.

Syafira Anisa, S.Ag.

Syafira Anisa, S.Ag.

Terkait

Siapa, Butuh Ucapan Selamat Hari Raya?

Siapa, Butuh Ucapan Selamat Hari Raya?

Oleh Dewi Praswida
2 Juni 2024
0

Jum’at, 31 Mei 2024, Masyarakat Indonesia dibuat kaget oleh fatwa yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengenai larangan umat...

Cyber Counseling Versus Cyber Bullying

Cyber Counseling Versus Cyber Bullying

Oleh Veny Mulyani, M.Psi, Psikolog
12 November 2022
0

Bullying merupakan issue yang marak terjadi di dunia, bukan hanya di Indonesia saja. Bullying atau perundungan diartikan sebagai penindasan atau...

SKB dan Mayoritarianisme yang membelenggu Rumah Ibadah

SKB dan Mayoritarianisme yang membelenggu Rumah Ibadah

Oleh Dewi Praswida
15 April 2022
0

Peristiwa penolakan rumah ibadah telah menjadi cerita usang namun terus di-upgrade di Indonesia. Bukan hanya cara menolaknya yang usang namun,...

Menjunjung Tinggi Agama, Merendahkan Sesama

Menjunjung Tinggi Agama, Merendahkan Sesama

Oleh Dewi Praswida
30 Januari 2022
0

Ahmadiyah merupakan kelompok keagamaan yang mengaku beriman kepada Nabi Muhammad dan Allah SWT serta menjalankan peribadatan sebagaimana yang dijalankan oleh...

Postingan Selanjutnya
Kasus Rumah Ibadah Jemaat Ahmadiyah di Sintang

Kasus Rumah Ibadah Jemaat Ahmadiyah di Sintang

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Penulis
  • Kontak
  • Redaksi

© Copyright 2021 Pelita Semarang

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Artikel
  • Berita
  • Aksi
  • Bunga Rampai
  • Pondok Damai

© Copyright 2021 Pelita Semarang