Writy.
  • Artikel
  • Berita
  • Aksi
  • Bunga Rampai
  • Pondok Damai
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Writy.
  • Artikel
  • Berita
  • Aksi
  • Bunga Rampai
  • Pondok Damai
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Writy.
Bersama Pelita Warga Buddha Semakin Bersinar

Bersama Pelita Warga Buddha Semakin Bersinar

Dhammatejo Wahyudi Agus R. Oleh Dhammatejo Wahyudi Agus R.
31 Desember 2021
di Bunga Rampai
0
Share on FacebookShare on Twitter

Era pasca-reformasi 1998 yang diiringi sentimen SARA dan disusul terjadinya kerusuhan massa di beberapa kota turut menaikkan panasnya suhu politik yang sempat merembet hingga Kota Semarang. Untungnya, di Semarang tak sampai muncul kerusuhan yang menyebabkan situasi chaos seperti di kota lain. Pemerintah dan aparat keamanan dengan sigapnya mampu mengatasi ketegangan sampai ke tataran akar rumput. Tokoh-tokoh agama dan masyarakat Semarang beserta ormas masing-masing kompak menjaga situasi dan kondisi.

Beberapa tahun kemudian, munculah gerakan-gerakan sosial yang membangun dialog untuk mempererat kerukunan antar etnis dan agama, terutama sejak Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) menjadi presiden. Beliau banyak mengeluarkan kebijakan yang mengedepankan semangat torelansi kehidupan antar agama dan etnis. Lalu munculah dialog-dialog antar agama dan budaya dalam berbagai wadah organisasi. Salah satunya adalah Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) yang rajin mengadakan seminar-seminar untuk membangun dialog antar agama ke berbagai kota.

Baca Juga

Pelita dan Inisiasi-inisiasi Perdamaian dari “Bawah” di Kota Semarang

Pelita Bercahaya dalam Kegelapan

Memasuki tahun 2000, embrio dialog-dialog antar agama dan budaya menetas beranak-pinak menjadi gerakan sosial yang mengusung persatuan dalam keberagaman di Kota Semarang. Salah satu yang terkenal dengan kegiatan rutin tahunannya adalah Pameran Kitab Suci Lintas Agama yang digagas Kevikepan Semarang. Setelah rutin berjalan sepuluh tahun berturut-turut, kemudian kegiatannya menjadi dua tahun sekali, dan masih terus berjalan hingga kini. Ini karena penggagas dan pelakunya yang terdiri dari berbagai tokoh agama itu sudah surut usia dan ada yang telah berpulang. Setelahnya, gaung kegiatan ini sempat meredup dan tidak sebesar nyala api semangat di awal dekade 2000-an. Seperti pada era pegiat awalnya, Suster Fransini, OSF, dari Katolik, Drs. H. Mudhofi dari Islam, Pandita D. Henry Basuki, B.A., dari Buddha, dan masih banyak lagi.

Pelita, Nyala Api yang Kian Membesar

Tak sampai redup api semangat kegiatan Pameran Kitab Suci Lintas Agama yang digawangi biarawan dan biarawati Katolik di Kevikepan Semarang itu. Tiga tahun terakhir ini muncul nyala api kecil semangat yang disulut oleh anak-anak muda lintas agama. Nama wadah itu adalah Pelita, akronim dari Persaudaraan Lintas Agama. Setyawan Budi, S.H., seorang muda yang santun adalah anak orang muda di balik nyala api baru yang menurut kami telah meneruskan semangat para pendahulunya.

Bedanya, kegiatan pameran kitab suci lintas agama oleh Kevikepan Semarang masih terbatas pada pameran buku dan seni budaya. Di Pelita, Mas Setyawan, dkk. mampu bergerak mengkoordinir kegiatan dan merangkul banyak tokoh ormas, lintas agama dan budaya lebih luas lagi. Di bawah komandonya, Pelita peduli pada isu-isu sosial hingga hukum yang berkembang di masyarakat. Dukungan pada Gerakan Peduli Kendeng misalnya. Belum lagi kegiatan spontan saat terjadi peristiwa kamtibmas yang hampir-hampir mengancam kehidupan antar agama. Seperti misalnya teror bom, intimidasi pada kelompok minoritas, hingga solidaritas saat terjadi bencana alam.

Melihat hal ini, kami selaku wakil dari warga Buddha di Kota Semarang sangat beruntung dan terbantu dengan hadirnya Pelita. Bersama Pelita, kaderisasi di internal organisasi Buddhis mulai terbangun. Muncul nama-nama baru yang meneruskan semangat pendahulunya, baik bhikkhu, pandita, pemuda, hingga mahasiswa Buddhis.

Pelita, Menciptakan Ruang Dialog Baru yang Ringan

Berbeda dengan dialog-dialog serius di ruang seminar ilmiah atau sejenisnya. Kami selaku wakil dari warga Buddha melihat peluang ruang dialog baru yang lebih santai, namun serius. Di Kota Semarang sendiri, terbatas sumber daya manusia yang mumpuni secara akademik atau intelektual Buddhis. Ini karena lembaga pendidikan Buddhis tidak berdiri di Kota Semarang, melainkan di luar kota. Misalnya di Wihara Mendut, Magelang yang merupakan sekolah bagi calon bhikkhu, di Ampel Boyolali dan di Kopeng, Salatiga, di mana terdapat sekolah tinggi agama Buddha dengan sejumlah mahasiswa dan dosennya.

Maka dengan gerakan Pelita yang sering mengadakan kegiatan spontan di ruang publik dan berkesan santai namun justru berpengaruh luas. Warga Buddha dapat mengutus wakil-wakilnya yang menjadi aktivis untuk terus meningkatkan kemampuan dialog intelektualnya di tengah-tengah pergaulan lintas agama. Sebut saja misalnya kehadiran Hikmahbudhi (Himpunan Mahasiswa Buddhis) Kota Semarang, Badra Santi Institute, dan Magabudhi Kota Semarang, dan lain-lain. Organisasi-organanisasi tersebut mampu menghadirkan sosok-sosok muda baru yang tampil mewakili komunitas warga Buddha di Kota Semarang, dari berbagai corak sekolah (saya lebih suka menyebutnya sekolah daripada sekte).

Sekarang telah muncul nama-nama baru pegiat lintas agama dari warga Buddha. Dari Hikmahbudhi ada Chandra Tri Ananda, Rudy Wisnu Waluyojati, dan Tri Lestari. Dari Badra Santi Institute ada Gusti Ayu Rus Kartiko, Widodo Brotosejati, dan Joko Nur Widodo. Dan dari Magabudhi ada Pandita Muda Aggadhammo Suwarto, Bsc., Pandita Muda Arief Wijaya, S.E., dan Upacarika Piyamano Priyono. Sejumlah nama tersebut tentu masih sangat kurang dan belum sesemarak wakil dari agama-agama lain yang terdiri dari banyak tokoh muda dan sesepuh. Ini adalah tantangan yang harus disikapi oleh warga Buddha sendiri untuk terus mengusahakan kaderisasi untuk menghasilkan pemimpin-pemimpin muda baru yang bukan hanya orang itu-itu saja. Melainkan orang muda baru yang siap mengemban estafet kepemimpinan di dalam organisasi-organisasi Buddhis sendiri.

Harapan Pada Pelita

Kini telah tiga tahun sudah Pelita hadir di tengah-tengah kita. Kehadirannya sungguh bagaikan pelita yang memberikan cahaya di saat kita diliputi kegelapan. Pelita meskipun bukan organisasi plat merah yang mendapatkan sokongan dana pemerintah dalam gerakannya. Ia mampu hadir menawarkan situasi di tengah isu perpecahan yang ditiupkan pihak-pihak tak bertanggungjawab, misalnya melalui hoax secara viral. Pelita juga mulai didengar kontribusinya oleh pemerintah dan aparaturnya, misalnya dari kepolisian setempat.

Ke depan, pelan-pelan Pelita harus melembaga meskipun tidak harus formal atau berbadan hukum. Sifatnya sebagai forum atau federasi tetap perlu didukung dengan perangkat kerja yang lebih baik bagi aktivisnya. Misalnya ketersediaan sekretariat bersama, dukungan kas bersama, dan adanya forum tokoh sesepuh dari masing-masing tokoh agama. Serta satu hal yang terpenting dan sampai sekarang masih terjaga murni adalah sikap non partisan Pelita yang tetap netral dan tidak berpihak pada kepentingan politik praktis, harus tetap dipertahankan.

Terakhir, pada peringatan tiga tahun Pelita ini, kami untuk dan atas nama warga Buddha di Kota Semarang khususnya ingin menyampaikan penghargaan dan terima kasih sedalam-dalamnya atas peran dan kontribusi Pelita selama ini. Semoga nyala api Pelita semakin berkobar dan menerangi segenap penjuru mata angin. Seperti kata Soe Hoek Gie, “Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan Pelita.” Selamat atas Peringatan Tiga Tahun Pelita. Semoga kita semua selalu rukun, selaras, sehat, bagas, dan waras, terbebas dari segala mara bahaya dan bencana.

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatha.

Sadhu Sadhu Sadhu.

Dhammatejo Wahyudi Agus R.

Dhammatejo Wahyudi Agus R.

Ketua PC Magabudhi Kota Semarang

Terkait

Pelita dan Inisiasi-inisiasi Perdamaian dari “Bawah” di Kota Semarang

Pelita dan Inisiasi-inisiasi Perdamaian dari “Bawah” di Kota Semarang

Oleh Dr. Tedi Kholiludin, M.Si.
7 Januari 2022
0

Meski sejak era reformasi ada tiga peristiwa yang memicu pelibatan masa yang besar (penolakan Gereja Isa Almasih/GIA dan dua kali...

Pelita Bercahaya dalam Kegelapan

Pelita Bercahaya dalam Kegelapan

Oleh Rm. Aloysius Budi Purnomo, Pr
2 Januari 2022
0

Setiap kali mendengar nama Pelita disebut, hati saya turut menyala oleh sinarnya yang memancar dalam kegelapan. Saya bersyukur boleh mengenal setiap...

Menyalakan Pelita

Menyalakan Pelita

Oleh Pdt. Dr. Tjahjadi Nugroho, M.A.
2 Januari 2022
0

“Tragedi terbesar bukanlah penindasan dan kejahatan oleh orang-orang jahat, tetapi diamnya orang-orang baik menyikapi hal itu” Martin Luther King, Jr....

Kebenaran Dengan Landasan Cinta Kasih

Kebenaran Dengan Landasan Cinta Kasih

Oleh Ws. Andi Tjiok, S.T.
1 Januari 2022
0

Tidak ingat kapan pastinya saya diajak masuk didalam satu group, yang saya pikir adalah hasil dari acara pemuka lintas agama...

Postingan Selanjutnya
Jejak Langkah Bersama Pelita

Jejak Langkah Bersama Pelita

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Penulis
  • Kontak
  • Redaksi

© Copyright 2021 Pelita Semarang

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Artikel
  • Berita
  • Aksi
  • Bunga Rampai
  • Pondok Damai

© Copyright 2021 Pelita Semarang