Saya ingin menceritakan kembali Matius 12.1-8. Sejumlah orang Farisi mengecam Gusti Yesus. Mereka menilai Laki-laki Bersandal dari Nazaret itu melakukan pembiaran terhadap pelanggaran yang dilakukan murid-murid-Nya. Hari itu hari Sabat, hari perhentian. Orang Yahudi harus ingat dan menguduskannya. Mereka tidak boleh melakukan kegiatan yang dikategorikan sebagai kerja. Tapi lihat murid-murid Gusti Yesus. Mereka mengisar bertih gandum dengan telapak tangan kemudian memakan tepungnya. Mereka melakukan kegiatan berkategori kerja. Itu berarti mereka telah melanggar hari Sabat. Lebih parah, guru mereka, Laki-laki Bersandal dari Nazaret itu, membiarkannya! Opo tumon?
Jelas, orang-orang Farisi itu tidak asal menuding dan mengecam. Mereka punya dalil. Tidak main-main, dalil mereka tercakup dalam Dasa Titah yang keramat itu. Titah Keempat: Ingat dan kuduskanlah hari Sabat! Itu firman Allah, lho!
Menanggapi tudingan dan kecaman berbasis dalil, Gusti Yesus juga berdalil. Tapi, alih-alih mengutip Dasa Titah, Beliau menyitir dua buah cerita. Ya, cerita-cerita tentang “pelanggaran” yang tidak dianggap salah bahkan oleh Allah sekalipun. Cerita pertama tentang Daud dan orang-orangnya. Karena kelaparan, mereka minta makan kepada Mbah Imam yang bertanggungjawab atas Kenisah/Baitullah di Nob. Sayang sekali, saat itu Mbah Imam sekeluarga tidak punya apa-apa untuk dihidangkan. Tetapi di dalam Kenisah terdapat “roti sajian,” yang khusus dipersembahkan kepada Allah. Tidak seorang pun dari kalangan umat boleh memakannya. Akan tetapi Mbah Imam mengambil keputusan yang berani: ia memberikan roti tersebut kepada Daud dan anak buahnya yang kelaparan. Mbah Imam telah melanggar sebuah aturan agama demi menolong orang-orang yang ngelih nyaris kelantih.
Cerita kedua lebih serem. Semua mafhum, termasuk orang Farisi, bahwa para imam bertugas mempersembahkan kurban pagi dan petang kepada Allah. Itulah pekerjaan mereka, tujuh hari dalam sepekan; dari hari pertama sampai hari ketujuh. Berarti: termasuk hari Sabat! Dengan demikian, mereka melanggar hari Sabat demi mempersembahkan kurban harian kepada Allah – suatu ungkapan bakti kepada Allah. Tapi tidak seorang pun berani mengatakan bahwa para imam itu telah berbuat dosa, bukan?
Setelah berdalil dengan dua cerita dari Kitab Suci, Gusti Yesus mencetuskan dalil yang dengan kejelasan tiada tara mengemukakan hubungan antara agama dan manusia. “Hari Sabat diadakan untuk manusia, bukannya manusia diciptakan untuk hari Sabat.” Kendati tersirat, toh jelas: Gusti Yesus ingin menyatakan bahwa Allah tidak bermaksud memenjarakan manusia dengan agama dan segala peraturannya, termasuk hari Sabat. Agama seharusnya bermanfaat bagi manusia, bukannya mencederai kemanusiaan manusia. Agama semestinya memerdekakan, bukan memperbudak manusia. Fungsi agama adalah mendewasakan manusia, bukan mengerdilkannya dengan citra Allah yang serba mengancam dan mencekam dengan murka dan hukuman. Agama seharusya memanusiawikan manusia.
Sosok historis Gusti Yesus hidup dalam masyarakat Yahudi. Sebagaimana halnya orang Farisi, Ia beragama Yahudi. Demikian juga murid-murid-Nya. Mereka menganut agama yang sama. Dalam pada itu, yang membedakan Gusti Yesus dengan orang Farisi adalah pandangan-Nya tentang fungsi agama dan kedudukan manusia dalam kaitannya dengan agama. Bagi orang Farisi, manusia adalah untuk agama. Bagi Laki-laki Bersandal dari Nazaret itu, agama diadakan untuk manusia.
Kita hidup dalam konteks yang berbeda dengan Gusti Yesus. Kita hidup di Indonesia, yang “ditakdirkan” sebagai masyarakat yang majemuk, termasuk majemuk dalam agama dan/atau kepercayaan. Kita berjumpa dengan saudara-saudara sebangsa yang seagama, tetapi juga yang beragama atau berkepercayaan lain. Kita tahu, kemajemukan agama dan kepercayaan memiliki implikasi yang ambivalen. Kemajemukan itu bisa memperkaya kehidupan bersama. Tetapi kemajukan juga bisa merusak bahkan menghancurkannya.
Kemajemukan agama dan kepercayan bisa memperkaya kehidupan bersama bila pihak-pihak yang menganut agama atau kepercayaan yang berbeda-beda bersikap positif terhadap kemajemukan dan melihatnya sebagai kesempatan untuk saling belajar dan berkontribusi. Tapi kemajemukan bisa merusak bahkan menghancurkan kehidupan bersama bila pihak-pihak yang berbeda menganggap kemajemukan sebagai ancaman terhadap kebenaran agama atau kepercayaan yang diyakini.
Dalam konteks Indonesia yang majemuk, dengan potensi positif dan negatifnya, prinsip yang didalilkan Gusti Yesus memiliki relevansi. Umat Kristen, baik Katolik, Protestan, maupun Pentakostal/Kharismatik, perlu membuat prinsip ini menjadi jiwa dan semangat hidup beragama. Dalam semua variannya, Agama Kristen bukan tujuan pada dirinya sendiri. Gusti Yesus tidak mengamanati umat Kristen untuk membesarkan atau menjayakan Agama Kristen. Gusti Yesus juga tidak memerintahkan umat Kristen untuk memutlakkan Agama Kristen apalagi mempertentangkannya dengan agama dan kepercayaan lain!
Sebagai pengikut Gusti Yesus, umat Kristen Indonesia dipanggil untuk membuat Agama Kristen menjadi pelayan kemanusiaan. Ke dalam, Agama Kristen menginspirasi umat Kristen untuk menjadi insan-insan kasih, benar dalam arti dapat dipercaya, dan cinta keadilan. Ke luar, Agama Kristen mendorong umat Kristen untuk menjadikan diri mereka sesama bagi saudara-saudara yang menganut agama atau kepercayaan lain, serta bahu-membahu dengan siapa saja yang berkehendak baik untuk mewujudkan perdamaian yang berkeadilan, termasuk bagi alam dan segala makhluk.
Dengan pemahaman di atas saya memaknai Persaudaraan Lintas Agama (Pelita), Semarang, yang pada tahun ini memasuki usia yang ketiga. Sesuai dengan namanya, bagi saya Pelita adalah komunitas yang mempertemukan orang Kristen dengan saudara-saudara yang beragama atau berkepercayaan lain untuk saling mengenal, saling belajar, dan berkontribusi bagi pengayaan hidup bersama. Pelita juga menjadi forum bagi orang Kristen dan saudara-saudaranya untuk turut mengawal Indonesia yang satu-dalam-kemajemukan dan mengupayakan perdamaian yang berkeadilan. Keberpihakan kepada kelompok-kelompok keagamaan yang dipersekusi dan sedulur-sedulur dari Kendeng, misalnya, menurut pendapat saya, menggarisbawahi hal ini.
Saya pribadi belum dapat berkiprah lebih banyak apalagi berkontribusi dalam Pelita. Saya berharap dan berupaya ke sana. Sebagai seorang pengikut Gusti Yesus saya merasa terpanggil untuk turut membuat Agama Kristen melayani kemanusiaan. Agama Kristen diadakan untuk manusia, bukan manusia untuk Agama Kristen.
Maju terus Pelita dalam memperkaya hidup bersama, merawat Indonesia yang satu-dalam-kemajemukan, dan mengupayakan perdamaian yang berkeadilan!
Terpujilah Allah!





