Writy.
  • Artikel
  • Berita
  • Aksi
  • Bunga Rampai
  • Pondok Damai
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Writy.
  • Artikel
  • Berita
  • Aksi
  • Bunga Rampai
  • Pondok Damai
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Writy.
Pelita Bercahaya dalam Kegelapan

Pelita Bercahaya dalam Kegelapan

Rm. Aloysius Budi Purnomo, Pr Oleh Rm. Aloysius Budi Purnomo, Pr
2 Januari 2022
di Bunga Rampai
0
Share on FacebookShare on Twitter

Setiap kali mendengar nama Pelita disebut, hati saya turut menyala oleh sinarnya yang memancar dalam kegelapan. Saya bersyukur boleh mengenal setiap pribadi yang terlibat dalam proses awal hadirnya Pelita. Saya juga bersyukur oleh sebab boleh mengusulkan nama Pelita sebagai nama, dan usulan itu diterima oleh para sahabat yang memiliki komitmen untuk menyalakan cahaya​ dalam kegelapan. Untuk itu, di awal refleksi ini, saya ingin menghaturkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan terima kasih kepada para sahabat yang kala itu menghubungiku dalam rangka pembentukan satu komunitas yang akhirnya bernama Pelita ini. Secara khusus ingin kusebut adalah Mas Damar Sinuka, Mas Yunantyo “Yas” Adi, Mas Setyawan Budy dan Gus Ubaidillah Achmad serta Gus Tedi Kholiludin.

​Lahir dalam Kegelapan​

Pelita lahir dalam kegelapan yang menyelimuti hidup saya kala itu, ketika kehendak baik dan praksis baik yang sudah berjalan selama sekian tahun, tiba-tiba terhadang oleh sikap-sikap tidak simpatik dari segelintir oknum saja. Pada mulanya adalah kehendak baik keluarga Ciganjur, khususnya Ibu Hj. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid yang bersama Puan Amal Hayati. Istri mendiang KH Abdurrahman Wahid yang adalah Presiden Ke-4 Republik Indonesia, dan dengan demikian Ibu Hj. Sinta Nuriyah adalah Ibu Negara Ke-4 RI, mempunyai komitmen untuk menjaga kerukunan, kesejahteraan, kebangsaan dan kedamaian melalui gerakan Sahur Keliling. Gerakan ini sudah dilaksanakan sejak mendiang Gus Dur masih aktif sebagai Kepala Negara dan Presiden Republik Indonesia. Itulah kebaikan seorang Ibunda kepada warga bangsanya, menyapa anak-anak negeri ini seluas Nusantara tanpa diskriminasi.

Baca Juga

Pelita dan Inisiasi-inisiasi Perdamaian dari “Bawah” di Kota Semarang

Menyalakan Pelita

Gerakan itu masih berlanjut, kendati Gus Dur sudah tidak memangku lagi jabatan pelayanan sebagai Presiden. Komitmen yang luhur dan mulia bahkan tanpa diskriminasi, sebab gerakan Ibu Hj. Sinta Nuriyah ini melibatkan banyak kalangan dan komunitas lintas agama. Salah satunya adalah saya. Siapakah saya ini, hingga Ibu Hj. Sinta Nuriyah berkenan memilihku di antara sekian banyak pribadi lain yang sesungguhnya lebih pantas untuk ditunjuk menjadi tuan rumah penyelenggara gerakan Sahur Keliling Nyai Hj. Sinta Nuriyah? Namun, kuterima amanah itu dengan rendah hati dan penuh syukur sebagai barokah bagi umat dan masyarakat. Maka begitulah, ketika saya bertugas di Paroki Hati Kudus Yesus Tanah Mas Semarang, saya mendapat amanah untuk pertama kalinya menyelenggarakan sebagai tuan rumah bagi program Sahur Keliling Ibu Sinta tersebut. Gerakan dilanjutkan ketika bertugas di Paroki Kebon Dalem. Semua berjalan dengan baik, aman, tertib, menjadi berkat bagi umat dan masyarakat.

Namun apa daya, tiba-tiba kegelapan menimpa. Rencana penyelenggaraan Program Sahur Keliling yang diambil pada segmen Buka Bersama Ibu Hj. Sinta Nuriyah saat saya bertugas di Paroki Ungaran ternyata mendapat larangan dan perlawanan. Larangan dan perlawanan dari oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab ini memunculkan kegaduhan dan menghadang kehendak baik Ibu Negara Ke-4, seakan mereka itu tidak mengenal visi dan misi Ibu Hj. Sinta Nuriyah yang selalu menjadi barokah bagi umat dan masyarakat tanpa diskriminasi. Sumber larangan dan perlawanan adalah arogansi! Padahal, para tokoh masyarakat dan ulama setempat yang semula berkoordinasi sudah siap melaksanakan amanah itu, namun mendekati hari pelaksanaan, oknum tersebut melarang dan melawan serta menolak gerakan kemanusiaan demi kebangsaan tersebut.

Sebagai penggerak kerukunan, kedamaian, dan kebangsaan yang beradab, saya tidak membalas perlawanan dengan perlawanan, kekerasan dengan kekerasan. Prinsip saya, apabila segala sesuatunya tergantung dari padamu, hendaklah kamu menjadi pembawa damai. Begitulah, cara damai sesudah berkonsultasi dengan panitia Ciganjur, saya memindahkan lokasi penyelenggaraan Buka Bersama Ibu Sinta ke tempat lain yang masih menjadi jangkauan pelayanan pastoral saya sebagai Pastor Katolik. Ternyata, itupun masih mendapat perlawanan dari oknum-oknum yang selalu merasa benar sendiri dan orang lain salah dan tak bisa berdialog dari hati ke hati dengan cinta. Mereka dibutakan oleh sikap arogan yang bahkan selalu provokatif dengan kekerasan! Itulah yang saya sebut sebagai kegelapan.

Dalam kegelapan itulah, kawan-kawan yang bersolider dengan peristiwa yang saya alami mendeklarasikan komunitas peduli keberagaman, kemanusiaan, keadilan dan kerukunan ini. Semula, mereka hendak menyebut diri Komunitas Persaudaraan Lintas Iman. Saat nama itu disampaikan kepada saya, saya mengatakan, “Saya tidak setuju dengan nama ini. Mengapa? Yang sifatnya lintas di negeri ini bukan iman. Iman kita di Indonesia itu sama, yakni iman kepada Tuhan Yang Maha Esa, sila pertama Pancasila. Yang bisa dibuat lintas karena berbeda bukan iman melainkan agama kita. Iman kita sama kepada Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan agama kita berbeda-beda. Ada Islam, Hindu, Buddha, Konghucu, Kristen dan Katolik. Maka, kalau mau, namanya jangan Persaudaraan Lintas Iman melainkan Persaudaraan Lintas Agama. Kalau disingkat sangat bagus, yakni Pelita. Pelita itu lentera yang bercahaya dalam kegelapan. Coba kalau Persaudaraan Lintas Iman disingkat, hehehe, singkatannya masih menjadi indikator kanak-kanak tanpa kedewasaan. Sedangkan singkatan Pelita memiliki indikator kedewasaan sebagai Pelita itu juga berisi pengorbanan. Ia rela terbakar demi cahaya yang terpancar di tengah kegelapan!”

Begitulah kurang lebih, cikal bakal lahirnya Pelita di Semarang seperti itu, termasuk soal nama, mengapa Pelita dan bukan yang lain. Saya bersyukur bahwa rekan-rekan dan para sahabat yang menghubungi saya kala itu, berkenan mendengarkan, menerima dan kemudian mengafirmasi nama itu hingga hari ini. Pelita, Persaudaraan Lintas Agama!

Lahir Langsung Dewasa

Di mata dan jiwaku, Pelita ini lahir langsung menjadi dewasa. Masa bayi dan kanak-kanak dilompatinya. Kedewasaan ditandai oleh keberanian Pelita bergerak dan berpihak. Gerakan dan keberpihakan Pelita adalah membela dan berbela rasa dengan para korban kekerasan dan ketidakadilan. Mereka berani pasang badan dan kuda-kuda untuk melawan siapa saja yang mengedepankan kekerasan dan berlaku tidak adil semena-mena kepada sesamanya. Setiap sikap diskriminatif akan disikat oleh Pelita.

Kedewasaan Pelita adalah berani mengambil pilihan sikap yang saya sebut (meminjam terminologi Teologi Pembebasannya Galileo Segundo, Gustavo Gutierrez dan Leonardo Boff) sebagai preferential option for and with the poor and the oppressed. Sikap ini tak hanya tertuju dalam konteks ekonomi, melainkan juga sosial-politik, meski Pelita bukan gerakan politik praktis melainkan politik etis. Kata poor yang saya maksudkan tidak dalam konteks ekonomis melulu, yakni miskin secara fisik melainkan juga berarti malang. Maka, kata poor langsung terhubung dengan kata the oppressed, yakni mereka yang tertindas, tersingkir, tergencet, dan diperlakukan secara tidak adil. Dalam bahasa Gereja Katolik Keuskupan Agung Semarang melalui Arah Dasar (Ardas) dan Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang (RIKAS) 2016-2035 itulah yang disebut dengan kamu KLMTD, yakni kaum Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir dan Difabel.

Nah, Pelita lahir langsung dewasa karena pilihan-pilihan sikap yang tertuju kepada KLMTD. Pilihan tak hanya sebagai slogan dan cuapan atau pun ucapan melainkan sebagai sikap yang diwujudkan dalam tindakan! Mereka berani membela KLMTD apa pun konsekuensi dan resikonya. Terutama, dalam berhadapan dengan kelompok garis keras dalam ideologi agama dan politik! Ini suatu sikap dahsyat dari Pelita dan siapa pun yang tergabung di dalamnya.

Ciri kedewasaan adalah sikap pemberani namun tetap dalam aras kearifan. Inilah yang menjadi ciri Pelita sejak awal mula kelahiran dan keberadaannya. Pelita menghadirkan sikap pemberani dalam menghadapi oknum dan kelompok yang mengusung kekerasan, entah itu yang bersifat verbal ucapan, maupun aktual tindakan yang bercorak destruktif. Namun Pelita juga mengedepankan kearifan yang bersumber dari cinta kasih terhadap oknum dan kelompok yang dihadapinya. Maka, jalan pertama adalah dialog dan duduk bersama, kalau dialog dan duduk bersama tak mendatangkan titik temu, apa boleh buat, kekerasan dilawan dengan cinta tanpa harus terjadi pertumpahan darah dan kerusakan.

Ciri kedewasaan lain yang diusung oleh Pelita adalah sifat inklusif merangkul bukan eksklusif membuang menyingkirkan. Siapa saja dirangkul dengan cinta kasih. Bahkan, pihak-pihak yang semula berada dalam kubu yang melawan, saat mau bergabung dalam gerakan damai yang dilakukan Pelita, tetap saja dipersilahkan. Inilah kedewasaan puncak yang tak setiap orang atau komunitas bisa melakukannya, namun terjadi dalam Pelita. Aksi damai di Simpang Tugu Muda merespon peristiwa bom bunuh diri di Surabaya pada 2018 adalah salah satu buktinya. Tanpa harus menyebut nama, semua yang paham pasti sudah bisa mengerti maksud dari kalimat dalam tulisan ini hahaha. Saya mempunyai bukti saat selfie dengan merangkul yang bersangkutan dan saya kirim di grup WhatsApp Persaudaraan Lintas Agama. Bahkan, kemudian yang bersangkutan pun dipersilahkan memberikan orasi tentang perlawanan terhadap pelaku bom bunuh diri itu. Inilah kedewasaan yang luar biasa terhadap orang yang melawan dan memusuhi kita. Meminjam ajaran suci Yesus Kristus, itu cara nyata, “Kasihilah musuhmu, dan berdoalah bagi orang-orang yang menganiaya kamu” (Injil Matius 5:44). Dahsyat!

Peduli Ekologi(s)

Pelita juga bergerak dalam rangka kepedulian ekologis. Sejauh saya mengetahui dan terlibat di dalamnya, Setyawan Budy sebagai koordinator Pelita bersama rekan-rekannya sangat memberi hati dan peduli dengan gerakan yang dilakukan oleh masyarakat yang bergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) yang dipelopori oleh Kang Gunritna di Sukalelo. Minimal, bersama saya, Mas Wawan sudah berkesempatan silaturahmi ke rumah kediaman Mas Gunritno dan kemudian pula turut dalam peletakan batu pertama pembangunan Mushola Yu Patmi di Kawasan Pegunungan Kendeng. Mas Wawan juga turut serta dalam pendampingan para sahabat dan sedulur Sikep apabila berkegiatan di Semarang. Inilah contoh sederhana dan nyata Pelita yang peduli ekologi dan bergerak dalam ranah ekologis.

Karenanya, berdasarkan pengalaman sederhana ini, tidaklah berlebihan apabila saya katakan dalam refleksi ini, bahwa Pelita juga memiliki sikap peduli ekologi dan bergerak pula dalam rangka kelestarian lingkungkan hidup dan keutuhan ciptaan. Persaudaraan lintas agama pun dipanggil untuk bergerak ke arah itu sebab faktanya, kepedulian ekologis semacam ini merupakan jalan kemanusiaan untuk membangun kerukunan dan persaudaraan dalam keberagaman berpangkal pada sikap peduli pada ekologi dan bergerak secara ekologis. Saya berharap hal seperti ini tetap dieksplorasi di masa mendatang.

Mengangkat Seni Budaya

Pelita juga mengangkat gerakan dan praksis kebersamaan demi terwujudnya kerukunan melalui jalur seni dan budaya. Paling tidak, itulah yang dimulai saat pertama kali Pelita menggelar Music for Diversity pada tanggal 18 Agustus 2018 di Taman Brumbungan. Gerakan ini menjadi ruang bersama untuk merayakan keberagaman melalui jalur seni dan budaya. Seni dan budaya selalu bisa menjadi cara untuk reaktualisasi relasi antara umat beragama dan kebudayaan. Bahkan, dalam banyak kesempatan, seni budaya bisa menjadi cara terbaik untuk memperkokoh bangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Mengangkat seni budaya sebagai media dan sarana untuk membangun persaudaraan lintas agama menjadi hal yang urgen saat ini, justru ketika sekelompok komunitas selalu berpandangan negatif terhadap seni dan budaya. Seni dan budaya menjadi kekuatan bangsa untuk memperkokoh bangunan hidup bersama yang rukun, bersaudara dan damai sejahtera. Sama seperti dalam hal gerakan peduli ekologi(s), saya pun berharap, bahwa Pelita pun mengeksplorasi seni dan budaya untuk gerakan-gerakan kerukunan dan persaudaraan di masa depan.

Semangat Kebangsaan

Hal terpenting yang menjadi perhatian dan landasan bagi keberadaan Pelita adalah terus menjaga dan mengobarkan semangat kebangsaan. Indonesia adalah bangsa yang besar dengan kekayaan ragam budaya, suku, bahasa, dan aneka talenta yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Dari Semarang, Pelita bisa menyalakan cahayanya di tengah kegelapan bangsa yang sedang mengalami ancaman serius terkait dengan semangat kebangsaan.

Maka, gerakan-gerakan yang dibuat Pelita ke depan pun tidak bisa mengabaikan nilai utama ini, yakni menjaga dan mengobarkan semangat kebangsaan bagi siapa saja, mulai dari anak-anak, orang muda, dewasa dan lansia. Pelita memiliki potensi untuk dikembangkan ke wilayah ini. Kerja sama dengan banyak pihak, tentu akan menopang gerak langkah positif dalam rangka mengobarkan semangat kebangsaan.

Sinergi Kampus

Barangkali baik mulai digagas dan dirintis secara lebih sistematis fakta yang selama ini sudah terjadi secara sporadis. Bekerja sama sinergis dengan Kampus. Yang dimaksud kampus adalah ruang-ruang akademik pendidikan formal sekolah-sekolah mulai dari tingkat Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Tingkat Pertama maupun Atas dan Universitas. Saya mempunyai pengalaman mendampingi wisata religi anak-anak TK, ternyata indah luar biasa. Mereka kami ajak berkunjung dan mengenal rumah-rumah ibadah yang ada di Semarang (Vihara Watu Gong, Masjid Agung Jawa Tengah, dan Gereja Blenduk serta Katedral Semarang). Anak-anak sangat bahagia mengalaminya.

Nah, kalau rekan-rekan Pelita berkenan mengerjakan sisi ini dengan lebih serius melalui sinergi kampus, wow, dalam gagasan saya, Pelita tidak sedang menaburkan benih bayam yang sekali tabur akan tumbuh dan dipanen (meski bisa bikin asam urat kambuh hahaha) tetapi laksana menanam pohon jati yang akan tumbuh kuat kokoh menjadi bahan bangunan rumah masa depan. Beranikah Pelita menerima tantangan?

Penutup

Akhirnya, kuhaturkan rasa syukur dan terima kasih, saya boleh mengalami keberadaan dan kebersamaan dengan Pelita. Bahkan, tidak berlebihan bila saya katakan, bahwa adanya Pelita adalah adanya diriku yang tetap kuat dalam menyalakan cahaya di tengah kegelapan terutama kegelapan yang terjadi dalam hal kerukunan, persaudaraan, dan perdamaian serta keadilan. Terima kasih, terima kasih, terima kasih! Semoga Pelita selalu dan terus berkembang hingga akhir jaman sesuai dengan tantangan dan kebutuhan yang akan terus ada.

Nyalakanlah cahayamu dalam kegelapan, sebab tak ada orang yang menyalakan Pelita lalu menempatkannya di bawah kolong tempat tidur, melainkan akan menaruh di atas gantang sehingga setiap orang bisa menikmati cahanya terang yang dipancarkan Pelita itu!.

 

Kampus Ungu Unika Soegijapranata, 25 Februari 2019

Selamat dan proficiat.

Berkah Dalem.

Rm. Aloysius Budi Purnomo, Pr

Rm. Aloysius Budi Purnomo, Pr

Pastor Kepala Campus Ministry Unika Soegijapranata; Pemred Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan; Anggota FKUB Jateng; Andurohkat Kwarda Jawa Tengah

Terkait

Pelita dan Inisiasi-inisiasi Perdamaian dari “Bawah” di Kota Semarang

Pelita dan Inisiasi-inisiasi Perdamaian dari “Bawah” di Kota Semarang

Oleh Dr. Tedi Kholiludin, M.Si.
7 Januari 2022
0

Meski sejak era reformasi ada tiga peristiwa yang memicu pelibatan masa yang besar (penolakan Gereja Isa Almasih/GIA dan dua kali...

Menyalakan Pelita

Menyalakan Pelita

Oleh Pdt. Dr. Tjahjadi Nugroho, M.A.
2 Januari 2022
0

“Tragedi terbesar bukanlah penindasan dan kejahatan oleh orang-orang jahat, tetapi diamnya orang-orang baik menyikapi hal itu” Martin Luther King, Jr....

Kebenaran Dengan Landasan Cinta Kasih

Kebenaran Dengan Landasan Cinta Kasih

Oleh Ws. Andi Tjiok, S.T.
1 Januari 2022
0

Tidak ingat kapan pastinya saya diajak masuk didalam satu group, yang saya pikir adalah hasil dari acara pemuka lintas agama...

Jejak Langkah Bersama Pelita

Jejak Langkah Bersama Pelita

Oleh Dwi Setiyani Utami, S.E., M.Sc.
31 Desember 2021
0

Dalam jendela konstelasi dinamika politik dan sosial bangsa Indonesia, saat ini prestasi tokoh-tokoh bangsa, seperti Presiden Joko Widodo, Sri Mulyani...

Postingan Selanjutnya
Pelita dan Inisiasi-inisiasi Perdamaian dari “Bawah” di Kota Semarang

Pelita dan Inisiasi-inisiasi Perdamaian dari “Bawah” di Kota Semarang

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Penulis
  • Kontak
  • Redaksi

© Copyright 2021 Pelita Semarang

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Artikel
  • Berita
  • Aksi
  • Bunga Rampai
  • Pondok Damai

© Copyright 2021 Pelita Semarang