Writy.
  • Artikel
  • Berita
  • Aksi
  • Bunga Rampai
  • Pondok Damai
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Writy.
  • Artikel
  • Berita
  • Aksi
  • Bunga Rampai
  • Pondok Damai
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Writy.
Belajar Sejarah dan Nilai Luhur Penghayat Sapta Dharma di Bandungan

Belajar Sejarah dan Nilai Luhur Penghayat Sapta Dharma di Bandungan

Anak Semarang Damai (Semai) #5

Pelita Oleh Pelita
11 Januari 2026
di Semai, Siaran Pers
0
Share on FacebookShare on Twitter

Pada hari Minggu (11/1), puluhan anak lintas agama dan kepercayaan di Kota Semarang mengikuti kegiatan Anak Semarang Damai (Semai) #5. Sejak pagi, anak-anak berusia 10–13 tahun itu berkumpul di Desa Wisata Srumbung, Bandungan, Kabupaten Semarang, untuk belajar bersama tentang sejarah dan nilai-nilai luhur ajaran kerohanian Sapta Darma.

Para peserta datang dari latar belakang Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, serta penghayat kepercayaan. Asal sekolah mereka pun beragam. Seperti edisi-edisi Semai sebelumnya, perjumpaan lintas iman ini dirancang sebagai pengalaman belajar yang interaktif, reflektif, dan menyenangkan bagi anak-anak pra-remaja.

Baca Juga

Warga Semarang Gelar Aksi Jeda untuk Iklim

Pemuka Agama/Kepercayaan dan Tokoh Masyarakat di Jawa Tengah Menyerukan Perbaikan Fundamental Pemerintahan Negara Republik Indonesia dengan Berbasis Moralitas dan Tanpa Kekerasan

Peserta Anak Semarang Damai (Semai) #5 mengikuti kegiatan Ice Breaking dipandu oleh panitia

Semai adalah program pendidikan keberagaman yang digagas EIN Institute, Ikatan Karya Hidup Rohani Antar Religius (IKHRAR), dan Persaudaraan Lintas Agama (Pelita). Program ini secara khusus menyasar anak-anak pada usia transisi, saat cara pandang tentang benar–salah, “kami” dan “mereka”, mulai terbentuk dengan kuat.

“Kami percaya, tidak ada anak yang terlahir membawa prasangka. Prasangka itu dipelajari. Dan karena ia dipelajari, ia juga bisa dilepaskan,” ujar Ellen Nugroho, Direktur Eksekutif EIN Institute. “Lewat Semai, anak-anak kami ajak berjumpa langsung, belajar dari sumbernya, dan membangun empati terhadap kelompok yang selama ini jarang dikenalkan, bahkan kerap distigmatisasi.”

Peserta Anak Semarang Damai (Semai) #5 Mencatat penjelasan dari pendamping kelompok

Pada Semai #5 ini, anak-anak diajak mengenal Sapta Darma, sebuah ajaran kerohanian asli Nusantara yang lahir pada tahun 1952 dan telah diakui oleh negara. Meski demikian, komunitas penghayat kepercayaan masih sering menghadapi salah paham dan perlakuan diskriminatif dalam kehidupan sehari-hari.

“Belajar tentang Sapta Darma bukan hanya soal mengenal satu ajaran, tetapi juga tentang belajar menghargai cara-cara manusia Indonesia beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa,” kata Setyawan Budy, Koordinator Persaudaraan Lintas Agama (Pelita). “Dengan mengalami sendiri perjumpaan ini sejak kecil, anak-anak akan tumbuh dengan kepekaan sosial dan sikap inklusif yang kuat.”

Kegiatan dimulai dengan sesi storytelling sejarah Sapta Darma, di mana anak-anak menyimak kisah lahirnya ajaran ini dan menyusunnya kembali dalam bentuk linimasa secara berkelompok. Setelah itu, mereka mengikuti jelajah delapan pos pembelajaran yang membahas Wewarah Pitu dan Sesanti, nilai-nilai moral yang menjadi pedoman hidup dalam ajaran Sapta Darma. Di setiap pos, anak-anak diajak berdiskusi tentang contoh penerapan nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Menjelang siang, para peserta bersama-sama menaiki odong-odong menuju Sanggar Candi Busana Blater, tempat ibadah penghayat Sapta Darma. Di sana, anak-anak mendapat penjelasan tentang simbol-simbol, tata cara ibadah, serta praktik sujud yang menjadi ciri khas ajaran ini.

Ketua IKHRAR Rayon Semarang, Br. Heri Irianto, FIC, menekankan pentingnya pendidikan keberagaman yang menyentuh pengalaman langsung anak. “Anak-anak ini kelak akan hidup di masyarakat yang majemuk. Kalau sejak sekarang mereka dibiasakan berjumpa dan bersahabat dalam perbedaan, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang utuh, beriman, dan mampu hidup damai bersama siapa pun,” ujarnya.

Dari pihak tuan rumah, pengelola Sanggar Candi Busana Blater menyambut kegiatan ini sebagai ruang dialog yang bermakna. “Kami bersyukur anak-anak datang dengan hati terbuka dan rasa ingin tahu,” ujar salah satu tuntunan sanggar. “Semoga perjumpaan ini menumbuhkan saling pengertian, bahwa meski jalan spiritual kita berbeda, nilai luhurnya sama-sama mengajarkan budi pekerti dan kebajikan,” tutur Dwi Setiyani Utami, yang juga adalah Ketua Perempuan Penghayat Indonesia (Puan Hayati) Jawa Tengah.

Kesan mendalam juga dirasakan oleh para peserta. Debora Abigail (10), salah satu peserta Semai #5 yang beragama Kristen, mengaku senang bisa belajar langsung dari para penghayat Sapta Darma. “Tadi aku baru tahu kalau Sapta Darma itu mengajarkan banyak hal baik, seperti jujur dan berbuat baik ke sesama. Aku juga senang punya teman baru yang agamanya beda-beda,” katanya.

Sementara itu, Nareshwara Kenzie Kaharsayan (11), peserta dari agama Islam punya kesan, “Awalnya aku belum paham Sapta Darma itu apa. Setelah mendengar ceritanya tadi, ternyata isinya mengajarkan jadi jujur, sabar, dan menghormati orang lain. Jadi, meski cara ibadahnya beda, ajarannya bagus-bagus, sih.”

Semai #5 menjadi lanjutan dari rangkaian kegiatan Semai yang telah berlangsung sejak 2018, dimulai dari Klenteng Tay Kak Sie, Pura Agung Giri Natha, Vihara Tanah Putih, hingga Susteran Gedangan. Dengan mengusung semangat “Semaikan Cinta dalam Keberagaman”, program ini terus berupaya menanamkan benih perdamaian sejak usia dini di Kota Semarang.

Tags: BandunganLintas AgamaSapta DharmaSemaiSemarang
Pelita

Pelita

Terkait

Foto Warga Semarang Gelar Aksi Jeda untuk Iklim

Warga Semarang Gelar Aksi Jeda untuk Iklim

Oleh Pelita
15 November 2025
0

Semarang, 14 November 2025 – Sekitar dua ratus warga Semarang, yang didominasi oleh pelajar dan aktivis muda, berpawai di depan...

Pemuka Agama/Kepercayaan dan Tokoh Masyarakat di Jawa Tengah Menyerukan Perbaikan Fundamental Pemerintahan Negara Republik Indonesia dengan Berbasis Moralitas dan Tanpa Kekerasan

Pemuka Agama/Kepercayaan dan Tokoh Masyarakat di Jawa Tengah Menyerukan Perbaikan Fundamental Pemerintahan Negara Republik Indonesia dengan Berbasis Moralitas dan Tanpa Kekerasan

Oleh Pelita
2 September 2025
0

Di penghujung bulan Agustus 2025, saat Republik Indonesia merayakan ulang tahun ke-80, negeri kita justru mengalami kulminasi konflik antara rakyat...

Pernyataan Sikap Pelita terhadap Pelarangan Jalsah Salanah JAI oleh Pemkab Kuningan

Pernyataan Sikap Pelita terhadap Pelarangan Jalsah Salanah JAI oleh Pemkab Kuningan

Oleh Pelita
6 Desember 2024
0

Jalsah Salanah atau Temu Nasional yang akan diselenggarakan pada 6-8 Desember 2024 oleh komunitas muslim Jemaat Ahmadiyah Indoensia di Manislor,...

Pembubaran Doa Rosario Mahasiswa Katolik Universitas Pamulang

Pembubaran Doa Rosario Mahasiswa Katolik Universitas Pamulang

Oleh Pelita
8 Mei 2024
0

Kronologi Peristiwa Gerbang Watugong yang terdiri dari kurang lebih 50 organisasi merupakan rumah bersama dalam membangun toleransi dan melawan intoleransi...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Penulis
  • Kontak
  • Redaksi

© Copyright 2021 Pelita Semarang

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Artikel
  • Berita
  • Aksi
  • Bunga Rampai
  • Pondok Damai

© Copyright 2021 Pelita Semarang